Minggu, 10 Juli 2011

Tujuan Menulis Resensi Buku

---dan ...kebahagiaan akan berlipat ganda jika dibagi dengan orang lain-- (Paulo Culho dalam novel "Di Tepi Sungai Piedra")

Tulisan ini merupakan karya Yon's Revolta seorang penulis kawakan di dunia maya, yang dipublish pada tanggal 13 Februari 2008

Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan terbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet padangan. Mereka juga akan mengerti informasi selain yang dipikirkannya selama ini, referensi dan pengetahuannya akan bertambah luas. Dan inilah sebenarnya investasi berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupannya. Orang yang menyukai aktivitas membaca, hasilnya, mereka tidak akan berpikir sempit ketika menghadapi problem-problem penting yang terjadi di dunia. Serta punya potensi dan kecendrungan yang bijak dalam mensikapi kejadian-kejadian keseharian di sekitarnya.


Tapi, bagi orang yang ingin berbuat lebih dan mau berbagi ilmu kepada orang lain, membaca saja tidak cukup. Mereka perlu memiliki ketrampilan meresensi buku. Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat.

Berikut ini tujuan meresensi buku :
  1. Membantu pembaca / publik yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku. Dengan adanya resensi, pembaca setidaknya bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu. Setidaknya, bisa dijadikan bahan obrolan yang bermanfaat dari pada menggosip yang tidak jelas juntrungannya.
  2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi, bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur).
  3. Mengetahui latar belakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi Undercovernya. Kalaupun tak bisa mendapat informasi yang demikian, peresensi juga tetap bisa mengandalkan misalnya mengacu pada halaman pengantar atau prolog yang biasanya terdapat dalam sebuah buku. Kalau tidak, informasi dan pemberitaan media tidak jadi soal.
  4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilakan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya "jam terbang" tinggi, biasanya tidak melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karya-karya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut, kalau tidak biasanya juga menghadirkan buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan memperkaya wawasan pembaca nantinya.
  5. Bagi penulis buku yang diresensi, bisa sebagai masukan yang berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi juga menyoroti soal font (jenis huruf), mutu cetakan dsb.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar